Tampilkan postingan dengan label Artikel Penulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Penulisan. Tampilkan semua postingan

PEDOMAN PENULISAN NASKAH JURNAL “AUDI”

Posted: Sabtu, 26 Juni 2010 by handokotkj in Label:
0

FORMAT
1. naskah adalah karya asli penulis yang belum pernah dipublikasikan di media
cetak lain.
2. Naskah diketik rapi pada satu sisi kertas ukuran kuarto dengan spasi ganda,
kecuali untuk kutipan langsung di indent (ditulis satu spasi). Jenis huruf
naskah adalah times new roman ukuran 12 dan diketik dalam program
Microsoft Word.
3. Panjang naskah yang diserahkan adalah 15-20 halaman (tidak termasuk daftar
pustaka dan lampiran) dengan margin atas, bawah, kiri, dan kanan adalah 1
inchi. Naskah yang dikirim disertai dengan disket/CD yang berisi hasil tulisan.
4. Sistematika pembahasan dalam artikel terdiri atas bagian-bagian sebagai
berikut:
(a) Judul, nama penulis (tanpa gelar), lembaga
(b) Abstrak
(c) Batang tubuh:
Kajian Empiris (Penelitian): I. Pendahuluan (latar belakang dan masalah),
II. Tinjauan Teori, III. Metoda Penelitian, IV. Hasil dan Pembahasan, V.
Simpulan, Keterbatasan Peneliatian, dan Saran.
Kajian Teoretis: I. Pendahuluan (latar belakang dan masalah), II. Kajian
Pustaka dan Pengembangan Hipotesis, III. Pembahasan, IV. Saran.
5. Penulisan sub judul menggunakan angka romawi (I, II, III, IV), sedangkan
sub-sub judul berikutnya dengan angka arab.
6. Halaman table, gambar, dan lampiran harus diberi nomor urut. Khusus table,
gambar, dan grafik, harus diberi mudul yang dicetak di tengah. Penomorannya
menggunakan angka arab.

ABSTRAK

1. Abstrak merupakan ringkasan yang padat mengenai isi naskah yang berisi
antara lain seputar pertanyaan atas permasalahan, metodologi, temuan serta
kontribusi atas naskah. Panjang abstrak sekitar 150-300 kata dan harus
dicantumkan pada setiap naskah.
2. Naskah berbahasa Indonesia, abstrak dibuat dalam bahasa Inggris, sedangkan
untuk naskah berbahasa Inggris, abstrak dibuat dalam bahasa Indonesia.
Abstrak dengan menggunakan huruf miring (italic).
3. Abstrak harus memuat sedikitnya empat keyword (kata kunci) untuk
memudahkan penyusunan indeks naskah.

DOKUMENTASI

A. KUTIPAN
1. Dalam teks, karya ditulis dengan menyebutkan nama akhir penulis dan tahun
di dalam tanda kurung. Misalnya, jika satu penulis (Jensen, 1976), jika dua
penulis (Jensen dan meckling, 1976), jika lebih dari dua penulis (Jensen, et al.,
1976).
2. Apabila sumber yang dikutif lebih dari dua, penulisannya yaitu (Jensen, 1976:
Widana, 2003). Jika ditulis oleh satu penulis (Widana, 2003; 2004).
3. Apabila nomor halaman dicantumkan (sumber kutipan dari buku-buku teks),
penulisannya adalah (David, 1992; 23-24).
4. Contoh penulisan kutipan, yaitu: David (1992 : 24) menyebutkan…………….
5. Apabila acuan berasal dari institusi, maka ditulis dengan cara……(Ikatan
Akuntan Indonesia, 2001) atau (BPS, 1995)
B. DAFTAR PUSTAKA
Daftar Pustaka ditulis secara alphabetic sesuai dengan nama akhir/keluarga (tanpa
gelar akademik), baik untuk penulis asing maupun penulis Indonesia.
Satu Pengarang
Hartono, J. 2000. Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Yogyakarta: BPFE.
Dua Pengarang
Cooper, Donald R., and Pamela S. Schindler. 2001. Business Research Method.
New York: McGrow Companies, Inc., eight Edition.
Referensi dari Jurnal/Majalah
Fisher, Anne B. 1990. “What Consumer Want in the 1990s”. Fortune, January 29:
108-112.
Hartono, J. 2004. The Recency Effect of Accounting Information. International
Journal of Bussiness, 6 (1).
Hartono, Jogianto dan Bambang Riyanto LS. 1997. “The Effect of Asymetrical
Information and Risk Attitude on Incentive Scheme: A Contigency
Approch”. Jurnal ekonomi dan Bisnis Indonesia, Vol 12 No.1 : 1-12.
Referensi dan Institusi
Ikatan Akuntan Indonesia. 2001. “ Standar Profesional Akuntan Publik”. Jakarta:
Salemba Empat.
Referensi dari Makalah Seminar
Susanto, Djoko. 1992. “Impikasi Perkembangan Pasar Modal terhadap
Pengembangan Standar Akuntansi”’ Makalah disampaikan dalam Konvensi
Nasional Akuntansi ke-2, Yogyakarta: 3-5 Desember.
Referensi dari Internet
Lobo, G.J. dan Zhou, J. 2001 Disclosure Quality and Earnings Management.
Diambil Maret, 7, 2002 dari http://www.ssrn.com.

Profil penulis muda : "Maryam Diya"

Posted: by handokotkj in Label:
0

Pertama kali karya saya terbit kira-kira dua belas tahun yang lalu sewaktu kelas 5 SD. Dimuat pada KORCIL(Koran Cilik) asuhan Republika dalam rubrik Pengalaman-pengalaman Mengesankan dengan judul 'Sepatu Dari Ibu'. Namun setelah itu keinginan menulis seakan terpendam dan terkubur dalam-dalam dikarenakan kegiatan belajar yang sangat menyita waktu.

Keinginan itu kembali muncul ke permukaan sewaktu saya SMA. Namun saat itu pun kegiatan sekolah terasa menyita waktu saya, dan minat menulis pun seakan terlupakan. Hingga akhirnya tanpa saya sadari semakin lama kecintaan saya dalam dunia tulis-menulis pun semakin besar, terutama dalam bidang fiksi. Hampir semua novel dari berbagai jenis saya lahap, dan semakin lama koleksi sayapun semakin bertambah. Bertekad untuk tak hanya membaca karya-karya orang lain, namun juga menghasilkan karya-karya fiksi maupun nonfiksi bermutu bagi orang lain, saya mulai mencari klub atau sekolah pelatihan yang dapat membimbing saya dalam dunia tulis-menulis. Dan memang mungkin sudah jodoh, tak lama kemudian saya melihat spanduk FOCUZ The Writing School pada sebuah toko buku yang saya lewati di daerah Cipete.

Selanjutnya saya mendaftar masuk dan sama sekali tak menyesal. FOCUZ The Writing School benar-benar telah membantu saya untuk mewujudkan mimpi saya. Di sini saya mendapatkan banyak sekali yang memang dibutuhkan bagi para penulis pemula. Teman-teman yang sejalan dengan pemikiran saya dalam hal menulis, dengan satu Visi dan Misi, sharing dan berbagi pengalaman tentang dunia tulis-menulis, mentor-mentor yang baik, suasana kelas yang asyik dan masih banyak lagi.


Profil penulis muda : "Laire Siwi Mentari"

Posted: by handokotkj in Label:
3



Laire Siwi Mentari lahir 10 November 1988. 
Selain nulis, ia juga hobby banget denger musik, nyanyi, nonton film, dan ngobrol-ngobrol sama orang yang asik sampe capek sendiri! Saat ini Iye, begitu ia sering disapa, kuliah di Sastra Jerman Universitas Indonesia.
Cita-cita Iye dari dulu masih sama, ingin jadi movie director alias sutradara film. Bersama Riheam, ia nulis skenario film layar lebar Apa Artinya Cinta (produksi PT Soraya Intercine Films).
Tahun 2005 ia diundang dan menjadi peserta termuda Ubud Writers and Readers Festival 2005. Pada tahun yang sama cerpennya, 
“Kekasih Sachiko” menang dalam lomba cerpen majalah Kawanku. Tahun 2007 Iye di undang pemerintah Amerika dalam program international visitor for young leaders. Tahun lalu Iye masuk 5 besar XL Awards.
“Aphrodite” ini adalah novel keduanya setelah “Nothing but Love” yang jadi best seller alias laris-manis itu.

Profil Penulis Terkenal : "Andrea Hirata"

Posted: Jumat, 18 Juni 2010 by handokotkj in Label:
1

“Aku Ingin Menulis Buku Ilmiah”

Semua berawal dari Laskar Pelangi , novel berdasar memoar masa kecil yang ditulis lelaki berambut ikal penyandang nama panjang Andrea Hirata Seman Said Harun. Sejak itu, lelaki ini jadi ketagihan menulis (fiksi). Ia melewatkan malam-malam insomnianya dengan menulis. Saat menulis itu, ia seperti orang “kesurupan”.

Kata demi kata mengalir deras dari ujung-ujung jarinya, menjelma kalimat-kalimat dan bermuara pada sebuah kisah panjang dengan tokoh utama Ikal. Tiga judul buku–dari empat yang direncanakan–telah lahir dari tangannya. Dua di antaranya, Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi , sudah dilepas ke pasar dan menuai sukses lumayan. Berbagai pujian dan kritikan dari sidang pembaca diterimanya dengan senang hati. “Sebetulnya, Laskar Pelangi adalah buku keduaku. Buku pertama yang kutulis adalah buku ilmiah berjudul The Science of Business . Buku itu kutulis tahun 2003”, jelas Andrea mengenai perjalanan riwayat kepenulisannya.
“Buku itu semacam pembayar kewajiban moralku kepada Uni Eropa, lembaga yang memberiku beasiswa kuliah di Sorbonne (Prancis) dan Sheffield (Inggris),” tambahnya lagi.
Ya, Andrea memang sangat menggemari sains. Lantaran itu, ia sangat berharap satu hari nanti bisa kembali menulis sebuah buku sains, bukan cuma sastra.
“Segala hal yang berhubungan dengan sains dan buku selalu menarik perhatianku,” katanya.
“Apa jadinya jika Newton tidak menulis Principia ? Atau Adam Smith tidak pernah menelurkan The Nature and Causes of The Wealth of Nations ?,” sambungnya lagi.
Tetapi, kemudian bukanlah salahnya jika ia malah dikenal lebih dulu sebagai penulis fiksi lewat debutnya Laskar Pelangi . Mulanya, Andrea tidak pernah meniatkan naskahnya untuk dikomersilkan lewat industri buku. Ia menulis memoar itu untuk dipersembahkan sebagai kado ulang tahun bagi gurunya tercinta, Ibu Muslimah. (Dalam Laskar Pelangi , ibu guru ini adalah seorang tokoh yang sangat inspiratif, seorang guru miskin di sebuah sekolah dasar miskin di Belitong yang mendidik murid-muridnya dengan penuh kecintaan. Kabarnya, Ibu Muslimah tengah diusulkan untuk mendapatkan Ma’arif Award). Entah bagaimana ceritanya, naskah itu lalu “dicuri” oleh seorang sahabatnya dan diserahkan kepada penerbit. Penerbit yang beruntung ini, Bentang, langsung jatuh cinta dan lantas menerbitkannya.
Menyusul buku pertamanya, Andrea lantas menulis sekuelnya, Sang Pemimpi. Masih berkisah seputar sekolahan, buku keduanya ini pun terbilang sukses. Lagi-lagi ia mendapatkan setumpuk pujian sekaligus kritikan yang disikapinya dengan bijaksana.
“Aku tidak besar kepala karena pujian, dan ingin belajar dari pujian,” ujarnya. “Dan aku sangat terbuka terhadap berbagai kritik. Sayangnya, dari banyak kritik yang kuterima, belum ada yang benar-benar menyentuh sebstansi. Kecuali dari Prof. Sapardi Djoko Damono dalam sebuah diskusi di Bandung.”
Menurut lajang kelahiran 24 Oktober (tahun kelahirannya dirahasiakan) ini, kritik-kritik tersebut lebih banyak berbicara di permukaan. Meski demikian, ia sangat berterima kasih untuk segala masukan itu dan selalu menyambut gembira pihak yang mengundangnya untuk diskusi. Terakhir, ia diundang oleh Fakultas Sastra Universitas Diponegoro, Semarang, dan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, Depok (Bogor). Total selama karier kepenulisannya, ia telah menerima undangan diskusi sebanyak 43 kali.
Apa mau dikata, Andrea Hirata akhirnya dengan sadar menjerumuskan diri ke dalam penulisan buku fiksi. Sejatinya, Laskar Pelangi merupakan buku pertama dari sebuah karya tetralogi. Setelah Sang Pemimpi , berikutnya berturut-turut akan terbit dua judul lagi, yakni: Edensor dan Maryamah Karpov yang dinanti-nanti para pembaca setianya.
Ekor kesuksesan Laskar Pelangi ditandai pula oleh diterbitkannya buku tersebut dalam edisi bahasa Melayu di Malaysia. Konon menjadi best seller di negeri jiran itu. Berkah lainnya adalah sudah ada pula tawaran untuk mengangkat kisah Ikal dkk ini ke layar lebar. Gosipnya, sutradara bertangan dingin, Riri Reza, yang akan menggarapnya. Kita tunggu saja, ya.
Kiranya Laskar Pelangi menjadi pintu pembuka bagi pria lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) ini untuk masuk lebih jauh lagi ke “jalan sunyi” sastra. Laskar Pelangi pula yang telah membuatnya menjadi semacam selebritis di jagad sastra, meskipun ditampik mati-matian oleh yang bersangkutan.
“Tidak ada pengaruh apapun (ketenaran itu- red ), kecuali makin sibuk dan kesulitan mengatur jadual kerja kantor dengan kegiata buku”, tandasnya buru-buru.
Namun Andrea harus mengakui, bahwa lantaran Laskar Pelangi cita-citanya membuka perpustakaan di kampung halamannya terwujud sudah. Perpustakaan itu menjadi tempat orang belajar ilmu (pengetahuan) dan agama Islam. Perpustakaan ini membuka diri bagi para relawan yang ingin bergabung.
Terlahir sebagai anak keempat dari pasangan N.A. Masturah (ibu) dan Seman Said Harun (ayah), Andrea Hirata menghabiskan masa kecilnya di Belitong. Setamat SMA, ia merantau ke Jawa, melanjutkan studi di FE-UI. Seusai meraih gelar sarjana ekonomi seperti telah ditulis di atas, ia berhasil mendapatkan beasiswa dari Uni Eropa untuk mengambil gelar master di Universite de Paris Sorbonne, Perancis serta Sheffield Hallam University, di Inggris. Ketika ditanya soal rencana menikah, sambil tertawa ia menyahut santai, “Menikah? Ha… ha… ha… sampai saat ini terpikirkan pun belum.”
Begitulah. Rupanya pernikahan masih jadi sesuatu yang belum jelas baginya. Namun, yang jelas, para penggemarnya, akan segera dapat menikmati Edensor , buku ketiga dari rangkaian tetralogi Laskar Pelangi . Masihkah bercerita tentang sekolahan?
“Ya. Edensor memilik garis merah yang tebal soal pendidikan. Tapi ada juga petualangannya. Tokoh-tokohnya masih tokoh sama dengan buku sebelumnya. Hanya saja sekarang mereka makin dewasa . Edensor adalah buku yang berusaha bercerita dengan jujur ihwal orang Indonesia ketika terdampar di negeri Barat,” Andrea memberi sedikit ‘bocoran’ karya terbarunya. Kedengarannya menarik ya? Kita sama-sama lihat saja nanti.

Biodata singkat            : Nama : Andrea Hirata Seman Said Harun
Tanggal lahir                : 24 Oktober
Pendidikan                : S1 Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia S2 Universite de Paris Sorbonne (Perancis) dan Sheffield Hallam University (Inggris).
Pekerjaan                     : Staf PT Telkom, Bandung.
                                        
                                                   Posted by yasir maqosid  
                                                   Sumber :http://perca.blogspot.com/2007/06/profil-andrea-hirata.html

Profil Penulis Sukses : "Habiburrahman El Shirazy"

Posted: by handokotkj in Label:
2

Sebagian orang mengenal Habiburrahman El Shirazy (lahir di Semarang, 30 September 1976) sebagai penulis novel best seller berjudul Ayat-ayat Cinta, yang dalam waktu tiga tahun sudah menembus oplah sekitar 300 ribu eksemplar. 

Belakangan, makin banyak orang yang tahu bahwa di balik kepiawaiannya merangkai kata dalam bentuk tulisan, ia pun jago berdakwah lewat lisannya. Maka undangan untuk mengisi pengajian pun makin sering datang kepadanya. Ada yang mengundangnya semata-mata untuk mengisi pengajian, ada juga panitia yang sengaja menyelipkan jadwal ceramah di tengah-tengah acara bedah buku dan talkshow di bidang perbukuan. ”Pernah di Palembang, dalam dua hari saya harus mengisi delapan acara, baik bedah buku dan talkshow, maupun mengisi ceramah agama,” tutur peraih penghargaan Pena Award 2005 itu.

Habiburrahman adalah alumnus Universitas Al-Azhar Cairo, Mesir, sebuah universitas Islam terkemuka di dunia. Di Negeri Seribu Menara itu, ia menimba ilmu keislaman tak kurang dari tujuh tahun lamanya (1995-2002). Sampai saat ini dia telah menulis belasan judul buku dan hampir semua buku yang ditulisnya best seller. Untuk bukunya berjudul ayat-ayat cinta saja dia mendapat royalty 1,5 Miliar Rupiah. Sedangkan untuk buku-bukunya yang lain tidak kurang dari 100 juta yang dia kantongi per judul.
Tempat tanggal lahir: Semarang, 30 September 1976
Pendidikan: S-1 Universitas Al-Azhar Cairo, Mesir dan S-2 The Institute for Islamic Studies in Cairo, Mesir
Nama istri: Muyasaratun Sa’idah
Nama anak: Muhammad Nail Author
Karya
· Ayat-ayat Cinta
· Ketika Cinta Berbuah Surga
· Di Atas Sajadah Cinta
· Ketika Cinta Bertasbih
· Dalam Mihrab Cinta
· Nyanyian Cinta
· Ketika Derita Mengabadikan Cinta
· Pudarnya Pesona Cleopatra


                                                              Posted by yasir maqosid  

Profil Penulis sukses : "Clara Ng"

Posted: by handokotkj in Label:
0

Siapa sangka, ibu rumah tangga yang senang mengurus anak dan keluarga ini telah menerbitkan50 lebih karya fiksi. Hingga kini, karya-karya Clara masih terus mengalir, tak terbendung.

Ada dua tempat yang ditawarkan Clara, sebagai tempat untuk bertemu. Di rumah atau di kantor sebuah penerbitan terkemuka. Katanya, di dua tempat ini ia biasa menghabiskan waktunya.

Ketika akhirnya disepakati bertemu di kantor penerbitan, Clara langsung menjawab, “wah, bisa sekalian lihat draft novel terbaru saya.” Suaranya terdengar bersemangat. Itulah karya Clara yang ke 56, yang terbit akhir tahun lalu.

Tiga Tahun Berturut-turut
Ketika ditanya, apa yang membuat Clara Ng menulis? Ia langsung menyebut salah satu judul novelnya, ‘Dinsum Terakhir’. Katanya, ia menulis karena usia itu singkat, dan banyak hal yang harus diungkapkan. Hidup tidak abadi dan imajinasi seluas alam semesta. Dan, karena ia tidak punya sayap sementara komitmennya pada seni, bis amembawanya ke langit ke tujuh.
Di tahun 2002, untuk pertama kalinya Clara Ng menulis novel. Judulnya, ‘Tujuh Musim Setahun’. Diluar dugaan, tulisan iseng ini membuahkan penghargaan baginya sebagai salah satu novelis berbakat di Indonesia. Sayangnya, Clara langsung vakum selama dua tahun.
Setelah sekian lama tak menulis novel, Clara muncul dengan buku berjudul ‘Indiana Chronicle-Blues’, buku pertama dari trilogi ‘Indiana Chronicle’. Buku ini memposisikan dirinya sebagai pelopor genre Metropop.
Tak sampai setahun, wanita lulusan Ohio State University, jurusan Interpersonal Communication ini langsung mengeluarkan dua novel sekaligus, ‘Indiana Chronicle-Lipstick’, dan The (Un)Reality Show. Dan di tahun 2005, ‘Indiana Chronicle – Bridesmaid’ pun terbit.
Tak hanya menulis novel, Clara juga menulis buku anak-anak. Istri NicholasNg Hock Hooi ini bahkan mendapat penghargaan Adikarya Ikapi tiga tahun berturut-turut untuk buku anak-anaknya.
“Saya cukup bangga setelah menyadari buku anak-anak saya mendapatkan penghargaan Adikarya dari pemerintah tiga kali berturut-turut. Tapi, saya masih merasa penulis buku anak-anak masih sepi dari penghargaan dan dari pelakunya. Minat baca masyarakat kita khususnya untuk buku anak-anak juga masih rendah. Mereka masih memikirkan sandang pangan papan, baru memikirkan kebutuhan membaca anak-anak,” kata Clara.
Padahal, lanjut Clara, di Amerika, setiap minggunya, terbit puluhan ribu buku. “Di sini, seminggu baru beberapa ratus buku. Perbandingannya jomplang sekali. Buku laris, di sana bisa terjual jutaan eksemplar. Di sini, untuk buku yang best seller, hanya berapa ratus ribu eksemplar. Lantas, bagaimana dengan buku yang biasa-biasa saja ?’

Sering Mengejutkan
Membaca karya-karya Clara, seolah membuka cakrawali imajinasi yang berbeda-beda. Ia bisa menulis dalam beberapa genre. Kisah pun sangat beragam. Mulai dari kisah perempuan metropolitan, ibu, janda, anak-anak, hingga remaja. Tema pun mulai dari cerita keluarga, manusia dengan kepribadian terpecah, hingga kisah fantasi dewa-dewa Mesopotamia.
‘Jelas tidak ada cerita dari pengalaman pribadi,’ tegas Clara. Baginya, penulis adalah profesi yang soliter dan berat. ‘Penulis harus bisa masuk ke dalam dunia di mana hanya ada kau dan tokoh-tokoh ciptaannya. Tokoh-tokoh dalam novel saya itu sering mengejutkan saya. Mereka bisa ‘hidup’ sendiri.’ Clara pun tertawa lepas.
Setiap menulis novel, Clara selalu punya benang merah. ‘Awal dan akhirnya saya sudah tahu. Tapi di tengah-tengahnya, bisa dikejutkan hal-hal yang tidak pernah terpikirkan. Tapi ya saya ikuti, apa yang diinginkan cerita itu. Bukan saya yang membuat cerita. Toh akhirnya, tetap ke tujuan akhir. Karena cerita tetap harus masuk akal dan sesuai dengan kaidah yang logis,” ujar Clara.
Selain menulis, Clara tak pernah lupa untuk membaca. Katanya, membaca adalah bagian dari proses menulis itu sendiri. Tidak heran kalau koleksi buku Clara saat ini mencapai 1000-an judul. Jumlah itu terus bertambah karena ia dan dua anaknya gemas sekali berbelanja buku.
‘Kalau lagi nggak mood, biasanya saya tidak nulis. Tapi itu bisa kok diatasi. Karena begitu saya baca tulisan itu, saya akan langsung lupa dengan ke-bete-an saya. Menulis itu seperti relaksasi,’ ucap Clara, tersenyum.

Ciptakan Waktu Sendiri
Clara begitu menikmati perannya menjadi istri dan ibu dua anak. Setiap hari ia bangun jam lima pagi untuk menyiapkan keperluan anak dan suaminya. Ia mengantar dan menjemput sendiri anak-anaknya sekolah.
‘Kewajiban pertama saya adalah sebagai ibu. Saya punya tanggung jawab antar anak sekolah, punya waktu untuk tidurkan anak di waktu malam, inilah saat-saat saya dekat dengan anak dan suasana paling enak. Saya juga harus menemani mereka makan, menemani belajar dan membuat PR. Jadi, diantara waktu-waktu itulah saya menulis. Misalnya diantara waktu saya jemput anak sekolah, itu ada kesempatan yang bisa saya manfaatkan untuk menulis,’ ujar Clara.
Agar tetap produktif, lanjut Clara, ia harus punya jadual menulis. ‘Saya biasa menulis disaat saya ada waktu luang. Jadi saya menciptakan waktu sendiri untuk saya menulis. Waktu akan datang ke saya, dan saya akan memanfaatkan waktu itu. Kalau Stephanie Meyer (penulis The Twilight Saga), itu kan menerkam waktu. Dan saya tidak bisa menerkam waktu, “ ujar Clara, tertawa kecil.
Clara juga punya ruang kerja, tempat ini menulis dan melakukan riset. Kalaupun ia harus meninggalkan rumah, ia mengirim tulisannya ke email, dan dilanjutkan menggunakan BlackBerry-nya. Itulah yang membuat Clara tidak pernah berhenti menulis. Setiap naskah bukunya rata-rata dirampungkan empat bulan.
‘Kuncinya cuma satu,’ kata Clara. ‘Kalau penulis pingin sejahtera serta hidup dari karyanya, ia harus konsisten menulis. Penulis bisa menikmati pendapatan setingkat manajer perusahaan besar asalkan terus berkarya. Selain itu, penulis harus punya idealisme yang bersanding dengan pertimbangan bisnis. Penulis harus bisa menjadikan namanya semacam brand untuk dijual,’  ujar Clara membagi kiat suksesnya.

                                                                                                          By : Aien Hisyam

Bikin Novel: Hobi yang Pantas Dilirik 3

Posted: Selasa, 15 Juni 2010 by handokotkj in Label:
0

Mudahnya mengarang
 
Lebih menarik lagi ternyata banyak di antaranya ditulis sama orang seumuran kita. Ada Laire Siwi yang masih kelas kelas satu SMU waktu menerbitkan novelnya, Maria Ardelia yang kini kelas tiga SMU St Theresia, dan Dyan yang baru saja lulus dari SMUN 6, Jakarta.

Yang dahsyat, buku mereka semua mengalami cetak ulang. Mulai dari 4.000 sampai 15.000 kopi. Dari tiap buku rata-rata mereka mendapat royalti 10 sampai 12 persen. Kalau rata-rata dijual seharga Rp 25.000 sampai Rp 30.000, itu berarti per buku bisa dapat Rp 2.500 sampai Rp 3.000. Kalikan dengan 10.000 eksemplar saja, uang yang mengalir ke kocek bisa antara Rp 25.000.000 sampai Rp 30.000.000. Belum lagi ada beberapa penerbit yang mau memberi uang kontrak sebesar 25 persen dari royalti buku yang dicetak awal. Biasanya cetakan awal itu sekitar 4.000 sampai 10.000 kopi. Kalau bukunya laris tanpa kerja lagi kita tetap dapat duit. Jadi, sambil sekolah dan bikin karangan, kita bisa jadi jutawan. Fantastis, kan!

Kebanyakan penulis remaja mengaku enggak menyangka hasil karyanya bisa berhasil. Biasanya mereka mengawali profesinya dari hobi nulis. Dyan yang menulis novel Dealova-nya saat masih SMP bahkan mulanya cuma iseng. Menurut cewek yang bercita-cita jadi psikolog ini, awalnya bikin cerita bukan untuk dipublikasikan. Memang sejak SD sudah senang menulis lalu teman-teman yang mendorong Dyan untuk enggak malu menawarkan ke penerbit. Pengarang muda yang sudah punya simpanan tiga novel ini bilang perjalanan nulis-nya dimulai dari diary. "Cuma kalau di diary, kan, itu cerita kita yang sebenarnya. Kalau aku di diary kebanyakan sial melulu. Jadinya pas dibikin cerita aku nulis saja yang bagus-bagus. Banyak-banyak berkhayal maunya gimana. He-he-he…," tawanya renyah.

Awal iseng-iseng ini juga diiyakan sama Laire dan Maria Ardelia (Mardel). Semuanya sudah senang nulis sejak SD dan sama-sama dimulai dengan nulis diary, lalu dikembangkan jadi cerpen, terakhir baru dipanjangkan menjadi novel. "Paling enggak dari pengamatan sekitar, curhat teman," ujar Laire, yang bisa ditelepon berjam-jam sama teman- temannya untuk dicurhati.

Cuma sering juga mereka mengalami kemacetan. Rasanya di otak sudah ada, tapi enggak tahu nuangin-nya gimana. "Kalau sudah enggak mood, aku biasanya berhenti dulu. Ditinggal tidur atau dengar musik," tutur Mardel, yang orang rumahnya enggak ada yang tahu soal penerbitan bukunya sampai kontrak ditandatangani.

Monty Tiwa, pengarang novel Dunia Mereka, mengatakan, tiap penulis punya trik masing-masing menghadapi writer’s block alias kemandekan menulis. Ada yang menggunakan keindahan alam sebagai pemancing, atau melepas penat ke mal, dengar musik, nonton, untuk mengembalikan gairah menulis.

Tapi, gimana sih caranya supaya kita bisa mengarang tulisan yang oke? Laire, Marde, dan Dyan sepakat bilang pokoknya mulai nulis saja. Idenya bisa dari mana saja. Film, buku, cerita teman, cerita sendiri, tapi yang paling gampang yang dekat sama dunia kita. Soalnya bikin karakter tokohnya lebih mudah. Monty yang juga penulis skenario film Biarkan Bintang Menari mengibaratkan menulis apa yang ada di hati itu bagai anak kecil yang bermain bebas dan mengacaukan lantai atau kertas dengan mainannya. "Lalu barulah gunakan otak untuk edit bagian yang perlu dan tidak, layaknya orangtua merapikan mainan setelah anaknya puas bermain. Mulai saja nulis di mana saja, kapan saja. Biarkan tulisan bermain dengan sendirinya, seperti pertama kali belajar main sepeda. Seiring waktu sepeda itu akan makin lancar lajunya tanpa ada yang bisa menghentikan." Weeits, patut dicatat, nih!

Icha Rahmanti yang mengarang Cintapuccino memberi tips begini, "Kalau soal topik gue pikir topik apa saja bisa jadi menarik. Tinggal gimana kita ngemas-nya saja, cari angle baru agar sesuatu yang biasa jadi lebih fresh." Menurut cewek lulusan teknik arsitektur ITB ini, penulis sebaiknya menetapkan tujuan dulu. Misalnya, kita mau tulisan fiksi atau nonfiksi? Kalau sudah punya tujuan, kita jadi tahu, apakah tulisan sudah sesuai sama tujuan. "Tapi, menurut gue, nulis juga sebuah proses. Misalnya, hasil akhir enggak sesuai tujuan belum tentu tulisan itu jelek. Karena proses jadi practice make perfect," jelas Icha panjang lebar.

Jadi, menulis itu mudah. Semua orang punya cerita, semua orang biasa bikin diary. Kita pun juga. Yang penting nulis, nulis, nulis, dan nulis lalu tawarkan ke penerbit. Yuk, mulai!

Diambil dari:
Nama situs: Kompas Cyber Media
Penulis: Nina Setyawati dan Eka Alam Sari
Alamat URL:
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0408/06/muda/1191856.htm

Bikin Novel: Hobi yang Pantas Dilirik bag 2

Posted: by handokotkj in Label:
0

Dengan penuturan jujur dan gaya bahasa khas remaja, novel-novel ini menawarkan kisah yang dekat sama kita, tokoh-tokoh yang terasa akrab di hati, serta jalan keluar yang menimbulkan inspirasi dan wawasan baru. Paling enggak, kita merasa tidak sendirian melewati masalah identitas diri, perubahan fisik dan mental, hubungan dengan ortu, persahabatan, ketertarikan pada lawan jenis, kehilangan orang yang dicintai, masalah sekolah, kecemasan, dan kepercayaan diri yang kerap melanda di usia kita.

"Soalnya baca TeenLit itu enggak bikin pusing kepala, ceritanya remaja banget. Nulis-nya kayak kita ngomong sama teman," komentar Dian, siswi kelas tiga SMU Marsudirini, Bekasi, tentang kegemarannya sama buku yang satu ini.

Tema remaja pun semakin pas karena si penulis juga berusia sepantar kita dan benar- benar mengerti dunia remaja. Apalagi mereka juga sering dapat masukan dari teman- temannya. Terutama para penulis muda yang mengedarkan karyanya ke sesama teman sebelum diterbitkan ke masyarakat luas. Agatha, teman sekolah Maria Ardelia, pengarang Me versus High Heels!, berkomentar tentang novel temannya itu, "Ceritanya, tuh, bener-bener kayak beneran deh. Maksud gue kayak kehidupan kita-kita saja. Jayus lagi, kayak yang buat."

Tapi, kayaknya memang ada satu kondisi yang kemudian merangsang penulis-penulis baru. Menurut Sitok Srengenge, awalnya bisa dirunut dari novel Saman karangan Ayu Utami, disusul Dewi Lestari dan lainnya. "Meski sebelum mereka sudah ada penulis yang tidak terlalu tua dan perempuan, tapi momennya baru merebak saat itu karena penjualan yang amat dahsyat. Setelah itu muncul penulis muda lain seperti Djenar dan Fira Basuki yang mendapat publisitas cukup baik. Saya kira ini ada pengaruhnya juga. Meramaikan penulis perempuan muda dan ngepop."

Penulis novel Menggarami Burung Terbang ini juga berpendapat kalau kegairahan membaca di kalangan muda sedikit banyak dipengaruhi oleh film Ada Apa Dengan Cinta? tahun lalu. "Gara-gara buku Aku karangan Syumandjaya ditenteng-tenteng Dian Sastro di AADC? walau buku itu tidak ada ngepop-ngepopnya, tapi jadi banyak orang muda yang mungkin karena ingin mengidentifikasikan dirinya seperti tokoh di film itu," jelas Sitok Srengenge panjang lebar. Jadi, banyak di antara kita yang merasa kuper kalau enggak baca buku Aku. Sekarang, buku Aku yang berbentuk skenario, bukan novel seperti sekarang, dicetak ulang berkali-kali. Akhirnya, bisa ditebak, konsumen langsung terpengaruh. Tren membeli buku di kalangan remaja juga membaik, tambah Sitok Srengenge.
                                                                               
                                                                                             Penulis: Nina Setyawati dan Eka Alam Sari

Bikin Novel: Hobi yang Pantas Dilirik bag 1

Posted: by handokotkj in Label:
0


Novel ringan karya penulis muda memenuhi deretan rak toko buku. Sambutan pasar luar biasa, sampai banyak buku dicetak ulang dalam waktu singkat. Otomatis royalti pun mengalir ke kantong pengarang. Benar-benar hobi yang pantas dilirik.

TeenLit alias teens literature makin akrab dengan kita. Paparan cerita ringan dengan dialog sehari-hari menjadi ciri yang mencolok. Meski kerap disebut buku cerita kelas dua, kalangan muda rebutan membacanya. Bahkan tak dimungkiri lagi buat penerbit, novel-novel ringan ini berada di jajaran terdepan penjualan buku.

Serial TeenLit yang dikeluarkan penerbit Gramedia Pustaka Utama (GPU) bisa menjadi contoh. Setiap judulnya diproduksi awal 10.000 eksemplar. Hebatnya dari jumlah sebanyak ini, ada novel yang baru dua minggu sudah habis dan harus cetak ulang sebanyak 15.000 kopi lagi. Sungguh fenomena besar bagi dunia baca Indonesia.

Dulu bacaan remaja semacam ini sempat populer berkat suksesnya Lupus dan serial Fear Street. Setelah itu popularitas bacaan semacam ini mulai menurun. Tapi, bukan berarti bacaan untuk remaja kosong. Menurut penerbit GPU, tanpa label TeenLit GPU lewat Meg Cabot dengan serial Princess Diary berhasil menjadi best seller selama berbulan-bulan sejak tahun 2002. Tak pelak lagi begitu buku ini laris, GPU segera memborong puluhan judul sejenis dari penerbit luar negeri. Seperti serial Mates, Dates karangan Cathy Hopkins yang judulnya lucu-lucu macam Bra Tiup, Kecupan Kosmis. Novel sejenis kemudian dirangkum dalam label TeenLit itu.

Tren baru
Cerita remaja dan ditulis oleh pengarang muda tampaknya sedang jadi tren. Ini diakui oleh Sitok Srengenge, yang novel Nothing but Love terbitan perusahaan penerbitannya, Kata Kita, dicetak ulang dalam tempo sebulan. Sitok Srengenge mengakui kalau buku Nothing but Love karya putrinya, Laire Siwi, termasuk yang paling laku. "Sejak kami berdiri Maret ini sudah menerbitkan enam judul. Yang paling laku itu cuma Laire sama Stephanie (pengarang cewek lain). Jadi, yang serius-serius enggak laku."

Fenomena meledaknya pengarang muda pun semakin terbukti karena ada buku lain terbitan Kata Kita yang penjualannya macet padahal sudah diresensi dan didiskusikan di mana-mana. Kenapa, ya? "Mungkin karena imej. Orang sudah takut kalau ini cerita sastra," ujar Sitok Srengenge. Ia juga mengakui pengaruh pengarang perempuan sangat besar. "Kita menerbitkan karya pengarang yang sudah memperoleh sekitar 30 penghargaan dan enam di antaranya juara pertama lomba cerpen, cover buku juga sudah ngepop, tapi penjualannya macet. Mungkin karena pengarangnya cowok, sudah tua, lulusan ITB, dianggapnya serius. Padahal, ceritanya ngepop dan cover-nya sudah dibikin ngepop juga."

Sementara pihak GPU memang mencanangkan tema TeenLit ini, sejak kesuksesannya mengusung tema Chicklit di tahun 2003, yang bercerita tentang kehidupan wanita kosmopolitan. Waktu itu ide ChickLit muncul karena keinginan menerbitkan buku dengan tema, seperti di dunia mode. "Karena kita punya banyak cerita wanita kosmopolitan, disepakati tema ChikLit," Istilahnya, sih, dari luar setelah suksesnya novel kayak Bridget Jones Diary itu. Tapi kita bikinkan slogan dan tag line, ’Being Single and Happy’," ujar Listiana, senior editor GPU. Kesuksesan ini menggoda GPU untuk menerbitkan tema lain yang juga menarik. "Tahun 2004, kita menentukan temanya TeenLit. Terbitnya mulai Februari, tapi launching resmi April lalu. Saat itu kita sudah punya dua pengarang lokal yang masih remaja, yaitu Dyan dan Maria Ardelia," imbuh Listiana. Mengekor kesuksesan TeenLit, penerbit lain berlomba mencari cerita ringan dari pengarang remaja. Bahkan ada yang dibubuhi tulisan di cover kalau ini Teenlit asli Indonesia.

                                                                                      Penulis: Nina Setyawati dan Eka Alam Sari

Yuk Membuat Novel 10 Bab

Posted: by handokotkj in Label:
0

Artikel-artikel tentang penulisan ini ada yang sebagian dan sepenuhnya saya ambil dari narasumber lain, demi keaslian pemilik saya cantumkan nama dari penulisnya. Harapan saya dan kita semua semoga ini Bermanfaat...
salam hangat... : ).


Seperti kata pepatah Cina kuno: Teachers open the door, but you must enter by yourself. 

Kerangka sangat penting sebagai kompas supaya tulisan kita tidak ngalor ngidul kemana mana. Kini saya mencoba menyajikan kerangka pembuatan novel sepuluh bab. Tentu saja ini bukan bentuk baku dan bisa diubah sesuai kebutuhan. Bab satu isinya pendahuluan. Isinya adalah adegan pembuka yang menarik, pengenalan tokoh utama dan tokoh penting lainnya. Di akhir bab satu, pembaca sudah harus tahu ini cerita tentang apa. Misalnya kita mau membuat novel berjudul Satu Juta Oh Satu Juta. Dalam bab satu kita memperkenalkan tokoh Anto, dan sebagai adegan pembukanya, Anto baru saja mendapat uang satu juta dari kuis televisi. Adegan yang menarik, bukan? Dalam bab satu juga diperkenalkan ibu Anto yang sedang butuh uang karena terlibat kredit peralatan rumah tangga, adik Anto yang sudah lama kepingin beli sepeda, serta teman Anto yang mata duitan. Bab dua kita sudah masuk dalam cerita. Cerita sudah harus terbentuk, masalah pokok disajikan, resiko ditetapkan, pembaca sudah mulai menaruh perhatian pada cerita, tokoh utama mengalami perubahan penting yang mengubah hidupnya selamanya. Melanjutkan cerita Anto tadi, di bab dua, tiba-tiba saja Anto kehilangan uang satu jutanya itu. Ia pun lantas panik karena telah merincikan apa saja yang ingin dibelinya dari uang itu. Ia pun mulai mengarahkan kecurigaan pada orang-orang terdekatnya: sang ibu, adik, dan temannya.Bab tiga, empat, lima, enam, tujuh adalah ISI. Isinya: pengenalan sub plot (cerita tambahan yang berkaitan dengan cerita utama tapi bukan penyelesaian dari cerita utama itu sendiri). Cerita harus tetap menarik, menegangkan dan adegan dibangun untuk menggiring cerita ke klimaks.Kesalahan fatal yang biasa dilakukan penulis adalah menyelesaikan cerita yang dibuatnya di awal pada bab tiga, lalu dilanjutkan dengan sub plot. Misalnya Anto menemukan kembali uangnya di bab tiga, tentu cerita sudah tidak menarik lagi. Justru kita harus memasukkan sub plot yang lain tanpa menyelesaikan plot utama. Anto yang sedang mencari uangnya, mendadak menemukan bahwa temannya tidak masuk sekolah. Ia pun terpikir untuk mencari temannya itu dengan mencari alamat rumahnya. Semua ini membawa Anto menemui keluarga temannya, tempat baru, orang baru. Sayang ia tak bisa menemukan temannya itu. Bab delapan menuju klimaks. Semua yang terbangun di bab tiga sampai tujuh tadi mulai ambruk. Semua memaksa tokoh utama mengalami momen terburuknya. Tokoh utama mengalami momen terburuk, tapi ia menemukan kesadaran untuk bangkit kembali dengan usahanya sendiri.Anto pun menyelusuri jalan-jalan di Jakarta berdasarkan petunjuk yang ia temui di kamar temannya. Tanpa sadar, Anto tergiring pada penemuan baru, tentang gembong pengedar narkoba yang suka berkeliaran di sekolahnya (bisa disinggung di bab satu). Anto sadar temannya itu tengah disekap gembong itu, dan saat ia berusaha menyelamatkannya, Anto dipukul hingga pingsan.Bab sembilan klimaks. Isinya banyak adegan bagus yang berlangsung cepat menggiring cerita menuju titik klimaks, melibatkan penyelesaian banyak subplot dan berkembang menuju penyelesaian final yang merupakan bagian terbesar dari cerita Anto dan temannya dalam bahaya. Mereka akan dibunuh karena telah menjadi saksi. Anto punya akal untuk mendapatkan kembali uang satu juta yang ditaruh di ruang kerja pemimpin gembong. Selain itu, ia pun ingin berjasa dalam membekuk mereka. Tapi sayang, usahanya ketahuan dan ia pun mau dibunuh. Bab sepuluh penyelesaian dan penutup. Isinya bahaya berakhir, segala sesuatu mendapat titik terang di sini. Konflik berakhir dan persoalan pokok sudah dipecahkan.Pada saat yang genting, polisi datang. Rupanya mereka sudah mengintai markas penjahat itu dan melihat gerak-gerik mereka yang mencurigakan. Polisi pun menangkap mereka semua. Anto selain mendapatkan kembali uang satu jutanya, mendapatkan bintang jasa dari kepolisian.Cerita bisa dimodifikasi sedemikian rupa. Semakin rumit konfliknya semakin menarik, dan penyelesaiannya sedapat mungkin jangan terlalu gampang (yang di atas hanya contoh, bisa dicari cerita lain yang jauh lebih menarik). Selamat mencoba!

                                                                                                  Written by Agnes Jessica

Kiat Menulis Novel

Posted: by handokotkj in Label:
0

Artikel-artikel tentang penulisan ini ada yang sebagian dan sepenuhnya saya ambil dari narasumber lain, demi keaslian pemilik saya cantumkan nama dari penulisnya. Harapan saya dan kita semua semoga ini Bermanfaat...
salam hangat... : ).

We all have ability. The difference is how we use it – Stevie Wonder.  
Ketrampilan menulis bisa dipelajari siapa saja, termasuk Anda. Nggak ada kata terlambat lho untuk menulis. Nih buktinya: Mildred Wirt Benson (penulis Nancy Drew) tetap menulis hingga meninggal pada usia 97 tahun.
Gisantia Bestari menulis teenlit pertama pada usia 13 tahun. Kalau yang muda dan tua masih menulis, kita yang umurnya di antara mereka tentunya nggak perlu takut untuk memulai. Pilihlah suasana yang asyik dan nyaman bagi Anda untuk menulis, dengan begitu ide akan mengalir lancar. Beberapa pengarang mempunyai cara unik untuk mendapatkan ilham/ide. Agatha Christie mendapatkan ide waktu berendam di bak mandi. AA Navis, pengarang Robohnya Surau Kami mengurung diri di WC ketika mencari ide. Sutardji Calzoum Bachri minum-minum dulu sebelum mendapatkan ide untuk membuat syair. Joko Pinurbo menulis puisi sambil mengepulkan asap rokok. Esti Kinasih pengarang Fairish menulis sambil menyalakan lilin aromaterapi. Jadi, mulailah dengan membuat suasana yang sesuai untuk Anda, jadikan menulis itu kegiatan yang menyenangkan. Buatlah novel yang baik. Yaitu novel yang bagus / menghibur, tapi mengandung manfaat / pesan moral. Bagus berarti: memenuhi kaidah bahasa indonesia yang baik (meskipun dengan bahasa gaul untuk novel remaja sah-sah saja), lalu pemilihan gaya bahasa, kata, alur, karakter tokoh dan cerita dibuat sebaik mungkin. Mengandung pesan moral misalnya: mendidik, mengajarkan kebaikan, kebijakan, kepantasan, kejujuran, cinta kasih, menghaluskan rasa kemanusiaan, meningkatkan optimisme, mengajarkan semangat rela berkorban dll. Nggak Cuma pembaca lho yang mendapatkan manfaat dari tulisan kita. Kita pun mendapatkan manfaat yang sama. James Pennebaker, seorang profesor psikologi melakukan penelitian dan membuktikan bahwa menuliskan perasaan-perasaan akan membawa pengaruh yang positif bagi kesehatan dan kekebalan tubuh. Lagipula, belajar menulis terus-menerus akan mengantarkan kita memiliki sesuatu karena tidak mungkin orang dapat memberikan sesuatu yang tidak dimilikinya. Menulis juga terbukti melatih berpikir logis. Lagipula, selain bisa terkenal dan membanggakan keluarga dan orang yang kita kenal, kita juga dapat imbalan yang lumayan. Karena itu tunggu apa lagi, jika Anda bercita-cita menjadi seorang penulis, mulailah sekarang. Pesan dari saya, buatlah novel dengan sepenuh hati, menulislah dengan hati. Maka hasilnya pasti beda!
                                                                          
                                                                                              Written by Agnes Jessica