menulis, cerpen, puisi, kisah, curahan hati: Indah Isolabianco

Indah Isolabianco

Posted: Kamis, 24 Maret 2011 by handokotkj in Label:
0


Oleh : coco stemzago
"Masa lalu ... yang begitu indah tuk dikenang ,,, saat kita berlarian tertawa, tersenyum penuh keceriaan bersama... di bukit ilalang ditemani angin sepoi-sepoi dan bunyi desis pohon pinus, saat itulah awal kisah kita dimulai,
"hingga kini kisah ini telah terpisah Delapan tahun lamanya, semenjak itu kita tak pernah bertemu kembali....
Perbukitan desa pagi ini tengah diselimuti embun tebal yang perlahan menjauh terusir angin lembah, segera tergantikan cerahnya udara bening mulailah bukit-bukit itu bermandikan cahaya mentari yang menghangatkan. Hari minggu yang menyenangkan remaja putra maupun putri tengah menikmati suasana indah minggu ini, setelah merampungkan tanggungjawab masing-masing mencuci, menyapu halaman dan pekerjaan-pekerjaan kecil dalam rumah maka kami telah bebas dari tanggungan bebas bermain bak merpati lepas dari sangkarnya kemanapun berkehendak untuk terbang. Naik bukit adalah kegiatan nomor satu yang menjadi faforit, keindahan desa begitu nyata saat dilihat dari atas bukit. beramai-ramai, bercanda ria tertawa sudah menjadi kebiasaan, masa-masa itu terlintas kembali dalam fikirku masih teringat jelas gambaran tentang dirinya, disaat tarian ilalang berayun berombak tersnyum bahagia ku memandangmu bermain bunga-bunga ilalang berterbangan alangkah cerianya kau waktu itu, tersenyum tersipu kau melihatku yang mengamatimu asyik bermain, maafkan aku karena itu’ hasratku ingin sekali menghampirimu tetapi aku terlalu pemalu untuk menemanimu bermain berbagi kesenangan bersamamu.
Itulah saat pertama ku mengenal dirimu, Nur’ anak baru pindahan dari Jakarta seorang putri cantik jelita dengan senyum tersipu yang khas, gadis yang pemalu mungkin karena ini adalah lingkungan baru baginya, aku ingin mengenalnya lebih jauh namun itu masih tertahankan benteng sifat malu yang kupunyai, satu tempat mengaji di musholla pak’ Kirno dan satu sekolahan bersamanya telah membuka kesempatan untuk mengenalnya, aku kelas lima sedangkan dia kelas empat. Apa yang aku lakukan sangat berkebalikan tak tau bagaimana cara brkenalan yang baik, jendela ruangan kelas empat tak berkaca dan ia duduk di sebelah jendela itu setiap pagi ku berjalan sembari melongok arah jendela, matanya begitu tajam menatapku menarikku dalam diam mnciptakan degupan jantung yang tiada henti memompa kencang, disusul senyuman kecil di bibir merah mu, kau membuatku mencair bagaikan es…
Hey’ boncelll…!!!” Apa dia bilang? Boncel..? itukah sebutan yang kau berikan untukku,
heh… apa jelek,,,”
uuu… dasar boncelll,”
jelek…”
Dari jendela itulah perkenalan dimulai, setiap hari ku menghampiri jendela yang tak berkaca itu hanya sekedar untuk ejek-ejekan dengannya, pernah suatu ketika aku dan teman-teman menjahilinya hingga sampai-sampai membuat Pak Tasis guru kelas kami geram buku catatan milik Nur kita rebut sontak nur merengek-rengek menangis dan mengadu kepada Pak Guru, sulutan kemarahan Pak Tasis mengenai teman-temanku, tapi tidak denganku entah kenapa saat teman-temanku dipanggil kekantor berdiri satu-satu dan diintrogasi Nur tak menyebutkan namaku dalam deretan daftar anak yang menjahilinya, sejak hari itu hanya senyuman kecil yang tertoreh saat terjadi perjumpaan tak ada lagi ejek-ejekan, aku pun malu rasanya malu dengan diri sendiri dan malu denganmu kau sungguh baik, saling curi pandang adalah satu-satunya cara melepaskan rasa penasaran satu sama lain. Hampir Sembilan bulan lamanya kisah ini, di suatu pagi yang cerah hari yang penuh tanda tanya, Selasa yang cerah rasa dalam dadaku tetap berangan hari ini aku akan melihat keindahan senyum dirinya, saat istirahat seperti biasa ku lewat samping jendela itu dengan langkah-langkah pelan mempersiapkan sebuah senyum kecil yang manis untuknya, “Apa kosong… huft,, aku kecewa sekali lagi ku lewat situ siapa tau dia sedang ke belakang dan kini sudah kembali, dihari itu berkali-kali ku lewat jendela tak berkaca itu, dirinya tak pernah ada di situ lagi. Hingga saat pulang sekolah ku tunggu di depan jendela tak berkaca itu sambil bersandar, ia tak ada juga kini rasa penasaran diikuti keingintauan ku bercampur dan kini menjelma menjadi sebuah kegelisahan. Sehari sebelumnya Wigi teman sekelasku yang juga tetangganya Nur menemuiku menyampaikan sebuah permintaan dari Nur,
Ko’ si Nur minta foto kamu…”
foto buat apa Gi…”
aku gak tau Ko.., aku cuma nyampein pesen darinya aja..”
aku gak ada foto Gi…”
owh ya udah, yang penting aku udah sampein pesennya… “
Perbincangan ku dengan Wigi hari itulah yang mejadikan aku gelisah hari ini, anak-anak telah berlarian keluar kelas dengan gembira bersiap kembali ke rumah dengan semangat, Wigi datang menghampiriku yang sedari tadi bersandar di tiang depan jendela tak berkaca itu,
Belum balik Ko…?’
Belum Gi, eh Gi… ko si Nur ga kelihatan hari ini, kemana? Tau ga?”
Owh’ kamu belum tau ya Ko” dia udah berangkat ke Jakarta kemarin sore”
Berangkat? Ke Jakarta…?”
iya sebelum dia minta foto kamu kemaren, sorenya dia dijemput bapaknya…”
Petir disiang hari itu telah memporak-porandakan perasaanku, belum bisa kuterima tak bisa kupercaya keadaan ini, tapi entah mau dikata inilah kenyataannya. Hari itu adalah hari yang menorehkan catatan kenangan terburuk dalam sejarah masa seragam merah putihku.
Beberapa tahun berlalu, tepatnya Delapan tahun terlewati kini ku sedang menikmati angin semilir di bukit ilalang dengan bunga-bunga yang seperti kapas berterbangan berarak jauh ke awan, ini tempat dulu pertama kali pertemuan ku dengannya. Tak pernah ada pertemuan lagi sejak waktu itu, namun kenangannya masih terukir jelas di hatiku . Mas Ratno salah satu saudara dari keluarganya Nur di desa, bercerita jika kerabatnya di Jakarta akan mengadakan resepsi pernikahan, perbincanganku dengan mz’ Ratro berlanjut hingga aku banyak bertanya tentang Nur. Dari perbincangan itulah angin segar mulai berhembus, “coba tanya sama si Jumi ini nomornya, kayaknya dia tau nomor Hp Nur… ”. sudah ku tanya Jumi hari itu juga dan kudapat sebuah nomor Handphone’nya Nur dari Jumi “ tapi coba miscall dulu ya.., aku gak tau apakah masih aktif, soalnya sudah lama sekali no itu..”. malam itu juga dengan hati deg-degan, penuh harap dan tanya mulai ku kirim SMS.
Asalamu’alaikum… maaf apa benar ini nomernya Nur??? ”
Tak ada jawaban untuk beberapa waktu, tetap ku menunggu hingga setengah jam berlalu Handphone ku berbunyi,
Wass… nur siapa?”
kamu Nur Indah Sari kan…?”
emang kmu spa..???”
ini Koko temen kamu waktu di Kebumen…”
Koko siapa..? bentar dlu ni no mama, sms ke no ku ja 0898546342.. ”
Koko temen ngaji dulu temen sekolah juga waktu SD”
aku ga tau siapa kamu…”
Dengan segala upaya ku jelaskan bagaimana kenangan –kenangan yang dulu pernah dilalui bersama, kujelaskan saat di bukit ilalang, saat ejek-ejekan di sekolah, dan saat mengaji bersama namun semuanya itu tak membuatnya ingat akan siapa itu Koko,
maaf aku coba ingat-ingat lagi ya…”
ya, sudah jangan dipaksakan, jujur aku benar-benar senang bisa mengenalmu lagi, menemukanmu lagi setelah selama Delapan tahun tak ada kabar…”
Malam ini ku beranjak tidur dengan sedikit rasa kekecewaan dalam hatiku, dia tak ingat sedikitpun padaku. pagi-pagi sekali ada satu pesan di Handphoneku buru-buru ku buka,
Ass… aku inget kamu sekarang’ maaf ya tadi malem aku agak sinis sama kmu…”
Owh’ taka pa-apa, yakin kmu inget aku???”
Ku Tanya hal-hal yang menyangkut tentang diriku di masa lalu untuk membuktikan apakah ia benar-benar ingat siapa aku, karena aku ragu apakah dia benar-benar ingat.
Maaf‘ ya dulu waktu SMA aku pernah jatuh dari motor… dan pernah koma..”
jadi klo buat mengingat-ingat masalalu sering sakit ini kepala…”
Beberapa hari terlewati dengan saling SMS dan telepon mengingat indahnya kenangan masa lalu, tertawa bercanda kembali mengisi hari- hari dengannya dan kebiasaan yang ku rindukan darinya yang dulu sering kita lakukan sampai saat ini pun masih sering kita lakukan yaitu saling mengejek satu sama lain, ejek-ejekan adalah cara melepaskan rasa kerinduanku selama Delapan tahun yang berlalu tanpa dirinya, itulah caranya menunjukan perhatian yang tersirat…
bolehkah ku panggil kamu dengan sebutan ‘Aa…?’ ”
boleh aja ade…”
ade kenapa saat a’ Tanya ini Nur? Ade gak’ tau?”
hmmm… karena namaku di sini bukan Nur tapi Indah’ indah Isolabianco”
Namanya bukan Nur lagi, dia bilang namanya Indah Isolabianco saat ku Tanya itu adalah sebuah nama yang indah apa artinya? indah berarti sesuatu yang indah dan Isolabianco adalah Pasir Putih, ia sangat suka dengan pantai berpasir putih ituah kenapa Isolabianco menjadi nama belakangnya kini, padahal sebelum ini sebelum sempat ku berputus asa dalam pencarianku menemukan dirinya, pernah ku add banyak sekali di Facebook cewe yang punya nama Nur Indah Sari, “lihatlah di pertemanan Aa’ begitu banyak nama Nur Indah Sari dan dari mereka tidak ada satupun yang menunjukan itu dirimu….” Si Indah hanya tertawa mendengar pengakuanku itu’ “iiih… kurang kerjaan amat si Aa’ ini…” begitu katanya. Senang dan bahagia ya’ itu yang kurasakan kini. Di malam minggu ini malamnya para muda mudi memadu kasih begitu katanya malam minggu saatnya ngapel kekasih, mungkin aku salah satu pemegang rekor sebagai cowo Dua Puluh tahun belum pernah merasakan yang namanya ngapel… tapi malam minggu ini keadaanya menjadi lebih baik karena ada ade’ Iindah yang akan menemaniku sekedar SMS saja itu sudah sangat menghiburku dan bisa berjam-jam hingga larut malam jika perang SMS dengan Indah dimulai, begitupun dengan malam ini.
Aa’ maafin aku ya dulu, bukan maksudku meninggalkan Aa’ tanpa kabar, dulu secara mendadak bapak jemput aku…”
ya’ sudahlah itu telah berlalu ade’… ”
Aa’ masih mengharap ade kembali…???”
harapan Aa’ belum pernah mati sejak Delapan tahun lalu de’…”
Aa’ ada rencana untuk menjadi orang Jakarata ga?”
A’ si bisa tinggal dimana aja, tapi A’ harus menemani ibu di kampung untuk saat ini..”
Kenapa de’…?”
“……………….”
Malam ini menjadi sebuah penutup terombang ambingnya hatiku selama Delapan tahun, malam penutup dari awal kisah yang dimulai dahulu, rasa penasaran rasa mengharap kini tertuang sudah, di penghujung sinar purnama yang bersinar tak sempurna inilah kisah kita memasuki lembar cerita baru yang berbeda. Terpejam mata ini ditemani udara dan gelapnya malam minggu, perasaan yanga ada dalam hatiku ini memang tercipta oleh kenangan cerita masa lalu dan tumbuh karena penantian yang panjang ku sadari itu sepenuhnya daam batas-batas kecil harapanku.
Koko… gimana no’nya mb’ Nur yg kemaren ku kasih, aktif ga? “ kata Jumi sambil menstandarkan motornya, menyapaku yang sedang duduk di taman desa pinggir jalan bersama teman-teman,
hey Jum… baru pulang sekolah,,, iya aktif makasih ya…”
cie… cie… gimana perkenalannya nie,,, kayaknya makin deket aja…”
ah bisa aja kamu…”
cantik lho si mb’ Nur itu…kenapa tak di jedor aja mz’….he…ntar di gondol orang lho…”
ah’ Jumi bisa aja, Tak mungkin itu lah… ”
lho memangnya kenapa…???”
tak apa Jum… si Indah Sudah memiliki Pacar…di Jakarta”
Kebumen, 1 september 2010








0 komentar: