Karyaku yang hampir terlupakan

Posted: Minggu, 08 Agustus 2010 by handokotkj in Label:
0

Kisah ini dimulai saat sabtu sore, waktu ku coba mencari novel tentang "cinta atau nafsu" yang akan kupinjamkan kepada sang keponakan berumur 15 tahun duduk di kelas 3 Smp, aku pikir sudah seharusnya si keponakanku mengerti tentang apa itu cinta atau nafsu karena diusianya ini pasti sudah mulai mengenal tenyang perasaan tentang cinta-cinta'an atau lebih tepatnya "cinta monyet" mulai sejak dini ku rasa perlu diberi pemahaman tentang itu, agar nanti tidak kebablasan...
Nah,,, kucari-cari di tumpukan-tumpukan buku yang seabreg, malah akhirnya ku temukan gambar-gambar coretan pensil. jadi kupikir tiada salahnya jika ku coba secan dan ku posting ...
ini dia beberapa hasil karyaku karena disamping ku suka menulis ku juga suka menggambar atau melukis....






















































































































 






































Bagaimana???








tegar berdiri

Posted: Selasa, 03 Agustus 2010 by handokotkj in Label:
1

tgl,3 Agustus 2010 : 08:50:05 am
nb: aku tak lembek....... 

kuatnya diriku bagaikan karang dilautan
biarpun dihempas ombak ia tetap tegar berdiri
kerasnya diriku bagaikan baja...
biarpun dileburkan ia akan tetap membaja kembali,

dengan diri yang kuat inilah kutapaki kehidupan
dengan fisik hebat inilah kulalui hari
telah penuh asam garam dalam diriku
                                         pahit manisnya telah terasa begitu mengecap,

di alam raga ini telah ku pijaki hidupku
dengan impian-impian membubung tinggi
harapan yang menjulang ke angkasa
aku bangga menjadi diriku sendiri...

suatu saat akan ku gapai bintangku itu
kuraih semua dunia dalam harapku
menjadikannya indah sepenuhnya...
seindah karunua-karuniaNYa selama ini.

by coco

Kisah Stephen King

Posted: Jumat, 30 Juli 2010 by handokotkj in Label:
1



Ini kisah awal suksesnya Stephen King menjadi seorang penulis terkenal.
Stephen King adalah seorang tukang setrika di perusahaan binatu, dia tinggal disebuah kontrakan kecil dan mendapat upah $60 seminggu. Istrinya bekerja di malam hari, namun dengan dua pekerjaan tersebut mereka nyaris tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Saat bayi mereka terkena infeksi telinga. Mereka tidak memiliki biaya pengobatan dan harus menjual beberapa barang perabotan mereka untuk membeli obat antibiotik.

Pekerja binatu ini ingin menjadi penulis. Setiap malam dan akhir pekan bunyi mesin ketiknya memenuhi kontrakan kecilnya. Dia menabungkan sebagian uang belanjanya untuk mengirimkan naskah pada penerbit dan agen.
Semua orang menolak hasil karyanya, dan surat jawaban yang diterimanya pun cukup singkat. “Tulisan anda belum memenuhi syarat”. Bahkan dia sendiri pun tidak yakin jika hasil karyanya disempatkan dibaca oleh editor.

Pada suatu hari si pekerja binatu tersebut membaca sebuah novel yang mengingatkannya akan hasil karyanya. Kemudian dia mengirimkan hasil karyanya kepada sebuah penerbit buku, dan naskah itu diterima oleh Bill Thompson.
Beberapa minggu kemudian, sebuah jawaban yang hangat dan ramah diterimanya melalui pos. Naskah itu punya banyak kesalahan, tetapi Bill Thompson yakin pekerja binatu ini punya bakat sebagai seorang penulis dan mendorongnya untuk mencobanya lagi.

Dalam 18 bulan berikutnya, si pekerja binatu mengirimkan dua naskah lagi kepada editor. Namun sekali lagi pekerja binatu tersebut mendapatkan jawaban yang kurang memuaskan dari editor. Tanpa putus asa, si pekerja binatu pun mulai mengerjakan novel berikutnya. Karena tagihan yang terus menumpuk, membuatnya mulai kehilangan harapan.

Pada suatu malam dia membuang naskahnya ke keranjang sampah. Keesokannya istrinya mengambilnya lagi. “Kau tak boleh menyerah saat keberhasilan telah begitu dekat”, kata istrinya.
Si pekerja binatu menatap halaman-halaman naskahnya. Mungkin dia mulai kehilangan rasa percaya diri, tetapi istrinya percaya dan tetap mendukungnya. Demikian pula dengan seorang editor di New York percaya bahwa dia berbakat dan memberinya semangat. Maka timbullah semangatnya yg hampir padam.

Setiap hari dia mulai menulis lagi untuk menyempurnakan kembali novelnya. Setelah dia selesai, dikirimkannya kembali novel itu kepada Bill Thompson. Di luar dugaannya perusahaan penerbitan Thompson menyerahkan uang muka $2500, dan lahirlah cerita horor klasik karya “Stephen King” -si tukang setrika tadi- yang berjudul “Carrie”.
Novel tersebut terjual lima juta eksemplar dan menjadi film yang paling banyak meraup keuntungan pada tahun 1976.