Kisah Stephen King

Posted: Jumat, 30 Juli 2010 by handokotkj in Label:
1



Ini kisah awal suksesnya Stephen King menjadi seorang penulis terkenal.
Stephen King adalah seorang tukang setrika di perusahaan binatu, dia tinggal disebuah kontrakan kecil dan mendapat upah $60 seminggu. Istrinya bekerja di malam hari, namun dengan dua pekerjaan tersebut mereka nyaris tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Saat bayi mereka terkena infeksi telinga. Mereka tidak memiliki biaya pengobatan dan harus menjual beberapa barang perabotan mereka untuk membeli obat antibiotik.

Pekerja binatu ini ingin menjadi penulis. Setiap malam dan akhir pekan bunyi mesin ketiknya memenuhi kontrakan kecilnya. Dia menabungkan sebagian uang belanjanya untuk mengirimkan naskah pada penerbit dan agen.
Semua orang menolak hasil karyanya, dan surat jawaban yang diterimanya pun cukup singkat. “Tulisan anda belum memenuhi syarat”. Bahkan dia sendiri pun tidak yakin jika hasil karyanya disempatkan dibaca oleh editor.

Pada suatu hari si pekerja binatu tersebut membaca sebuah novel yang mengingatkannya akan hasil karyanya. Kemudian dia mengirimkan hasil karyanya kepada sebuah penerbit buku, dan naskah itu diterima oleh Bill Thompson.
Beberapa minggu kemudian, sebuah jawaban yang hangat dan ramah diterimanya melalui pos. Naskah itu punya banyak kesalahan, tetapi Bill Thompson yakin pekerja binatu ini punya bakat sebagai seorang penulis dan mendorongnya untuk mencobanya lagi.

Dalam 18 bulan berikutnya, si pekerja binatu mengirimkan dua naskah lagi kepada editor. Namun sekali lagi pekerja binatu tersebut mendapatkan jawaban yang kurang memuaskan dari editor. Tanpa putus asa, si pekerja binatu pun mulai mengerjakan novel berikutnya. Karena tagihan yang terus menumpuk, membuatnya mulai kehilangan harapan.

Pada suatu malam dia membuang naskahnya ke keranjang sampah. Keesokannya istrinya mengambilnya lagi. “Kau tak boleh menyerah saat keberhasilan telah begitu dekat”, kata istrinya.
Si pekerja binatu menatap halaman-halaman naskahnya. Mungkin dia mulai kehilangan rasa percaya diri, tetapi istrinya percaya dan tetap mendukungnya. Demikian pula dengan seorang editor di New York percaya bahwa dia berbakat dan memberinya semangat. Maka timbullah semangatnya yg hampir padam.

Setiap hari dia mulai menulis lagi untuk menyempurnakan kembali novelnya. Setelah dia selesai, dikirimkannya kembali novel itu kepada Bill Thompson. Di luar dugaannya perusahaan penerbitan Thompson menyerahkan uang muka $2500, dan lahirlah cerita horor klasik karya “Stephen King” -si tukang setrika tadi- yang berjudul “Carrie”.
Novel tersebut terjual lima juta eksemplar dan menjadi film yang paling banyak meraup keuntungan pada tahun 1976.

Dikala hati rindu senyuman

Posted: Kamis, 29 Juli 2010 by handokotkj in Label:
2

tgl,29 juli 2010 : 10:24:03 am
nb: malam sunyi....... huft


Berbisiklah hatiku ditemani sunyinya malam
sepi rasa ini, melihat jauh ke dalam ... 
melayang asa'ku dalam gelapnya malam
sesekali terdengar jangkrik bernyanyi


itulah temanku satu-satunya kini...
ku teringat senyuman indah jauh disana
senyuman dimasa kecil yang ceria
yang selalu hidup dalam hati,


sedang apakah kau kini diseberang sana,
ku tak dapat melihat senyum itu lagi
ku tak dapat mendengar canda tawamu lagi
indahmu hanya ada dalam bayang pikirku...


rasa yang panjang dan mendalam
di dalam lubuk hati kecilku yang kelam
kau selalu hidup, membawa secerca cahaya
di malam-malam ku yang gelap dan pekat...

by : coco

Saat Indah dalam kenangan

Posted: Rabu, 28 Juli 2010 by handokotkj in Label:
5

tgl,28 juli 2010 : 07:34:08 am
nb: Aku teringat kembali tentang masa laluku ...


Pagi dibukit ilalang, di selimuti kabut menyejukan
perlahan disinari mentari pagi yang menghangatkan
dihembus angin yang menyapu seluruh bukit
pohon pinus berdesis bagaikan bernyanyi merdu,

ditemani kicau burung dan tarian ilalang berombak
betapa luar biasanya suasana ini dihatiku
tersenyum ceria ku memandangmu
bermain bunga-bunga ilalang berterbangan...

hanya itu yang dapat kuperbuat
ku terlalu pemalu untuk menemanimu
cukuplah ku memandang indah dirimu
dan... engkau pun hanya tersipu memandangku,

maafkan aku karena itu...
kisah ini masih tersimpan dalam diri
terbingkai indahnya kenangan hati
sampai nanti, dalam hidupku yang panjang ini

by: coco