Sinar senja

Posted: Minggu, 01 April 2012 by handokotkj in Label:
2

tanggal 26 maret 2012 14:44 am
 nb : hati rindu damai...

Pada senja yang redup, berhembus semilir angin sepoi
Sejuk nya menerpa  muka menajamkan ingatan lalu
Gambaran pantai yang menenangkan jiwa karena keindahannya
Setiap kesedihan seakan menjadi lega saat dipertemukan dengan pantai  ini

Gulungan ombak berkejaran mengisyaratkan kesukacitaan
Warna senja merona tersinari mentari
Ia seolah mengatakan nikmatilah keindahanku
Bersandarlah,  sejenak  buka  pintu hati keindahanmu

Maka lupakanlah semua beban segunung itu
Lihat ke diri, dia adalah anugrah terbesar
Pancarkan cahayanya yang tanpa batas
Satu hembusan panjang nafas ini, bukti satu kekuatan

Sesuatu yang berat akan terus ada menyertai
Selama hasrat kebesaran diri yang kau inginkan
Karena ujian pasti ada sebagai bukti suatu kelayakan
Itulah yang harus selalu disadari dan dipahami

Someone will go...

Posted: by handokotkj in Label:
2


By : coco han 25’ Maret 2012

"Indah”, nama itu masih saja terngiang di pikiran, tak mengherankan rasanya jika jadinya seperti ini mungkin itu karena kenangan, nama “Indah” begitu terkenang di hati. Sebuah kisah masa lalu yang tercipta oleh perjalanan panjang dan penuh lika-liku problema.

            Fajar tengah menyingsing naik menyinari deretan bukit, memberikan warna dan aroma hijau dedaunan, pagi yang cerah seperti ini selalu memberikan inspirasi hidup untuk selalu ceria dan semangat seperti itulah Koko menjalaninya, seorang anak gunung sederhana yang kini sedang tumbuh menjadi pemuda petualang yang siap menantang peliknya lika-liku kehidupan. Sejak kecil ada saja yang dikerjakannya, naik gunung, memancing, bersepeda, bermain layang-layang, berenang, dan masih banyak yang lainnya. Koko tidak melakukan semua hal yang dilakukannya secara biasa-biasa saja, contoh hal naik gunung, disaat teman-teman sebayanya bermain kelereng atau lompat tali di rumah, dia memilih menelusuri bukit-bukit dan naik gunung bersama sebagian temannya dengan membawa perbekalan sendiri ala para pendaki gunung sungguhan padahal usianya masih sepuluh tahun, begitu juga dengan memancing tempat yang jauhlah yang dituju, yang masih asing dan baru baginya, sepeda yang di pakainya pun tak luput dari perhatian dirubahnya tampilan sepeda itu hingga tak ada seorangpun yang menyamai sepedanya. Koko kecil juga memiliki banyak koleksi bukti kekreatifitasannya di antaranya desain layang-layang hasil rancangannya sendiri, senjata panah ikan yang digunakan berburu ikan, punya busur dan panah buatannya sendiri, kincir air yang gagal tidak bisa menghasilkan listrik, dan masih banyak yang lainnya.

            Dari kesemuanya itu, sepertinya seni telah menjadi jiwanya, lihat saja setiap gambar di balik Cover buku tulisnya, penuh dengan coretan-coretan tangannya pasti sulit menemukan buku-bukunya yang bersih dari gambar-gambar, gambar robot, pesawat ruang angkasa, galaksi, dan planet-planet ada juga monster, ultraman, power rangers salah satu acara TV faforitnya dan gambar-gambar pemandangan. Itu kenangan dimasa merah putihnya, yang masih berlanjut hingga ke jenjang pendidikan berikutnya, hanya saja kini gambar-gambar yang dibuatnya agak sedikit berbeda, dan jumlahnya tidak seperti dulu, jelas sekali disitu tergambar sebuah lukisan hati, dengan  anak panah menancap ditengahnya kemudian lukisan  sesosok wajah seorang perempuan cantik, dengan berhiaskan bunga-bunga. Dan dari menggambar kini lebih banyak tulisan yang dibuatnya, tulisan dan kata-kata penuh dengan pengandaian dengan bait-bait yang membuat siapa saja bila membaca tulisan itu akan tesentuh hatinya, belum lama kebiasaan menulis puisi dan syair itu muncul tepatnya sekitar setahun yang lalu, sejak perkenalannya dengan seorang perempuan kecil, lucu, ceria, dan cantik pindahan dari Jakarta. Dialah “Nur Indah Sari” yang biasa dipanggil “Indah” dan perkenalan diantara keduanya pun terjadi dari mulai saling curi pandang sampai mencari-cari perhatian tergambarkan betapa senangnya Koko waktu itu, sudah jelas rasa suka itu ada di hati tapi seperti itulah Koko yang pemalu tidak tau apa yang harus dilakukan, layaknya seorang anak kecil yang baru bertemu, perkenalan pertama dimulai dengan saling mengejek satu sama lain bagaikan kucing dan anjing tapi setelah sampai di rumah timbul rasa kangen, dan mulai sibuk melamun dan memikirkan ejekan baru untuk keesokan harinya, hanya dengan ejekan cara itulah yang Koko tau agar bisa dekat dengan si Indah, bahkan suatu ketika Indah dibuatnya menangis saat buku tulisnya direbut dari tangan indah dan ketika itu penyesalan yang sangat ada dalam hati Koko, melihatnya menangis telah membuat rasa bersalah ada dalam diri Koko saat itu, bagaimana cara untuk meminta maaf rasanya sulit sekali untuk dilakukannya.

            Namanya Indah, seindah orangnya itulah yang ada dibenak Koko tapi seiring berjalannya waktu nama itu tak seindah kenyataan yang harus dihadapi, pahit sekali rasanya saat suatu hari melihat bangku di kelas samping jendela itu kosong tadinya Indah duduk di situ, saling pandang lewat jendela itu dan kemudian saling melontarkan ejekannya masing-masing. Harus menerima kenyataan yang sulit baru kali ini di dada seolah-olah ada batu keras yang mengganjal, rasanya kecewa ternyata seperti ini bingung harus menggambarkannya dengan apa, harus berbuat apa, saat pertama merasakan senangnaya punya teman baru kini sudah harus berpisah tanpa pamit, tanpa sempat terucap sepatah kata pun. Setidaknya Koko ingin menunjukan rasa kehilangan padanya, tapi tak ada kesempatan untuk itu,  di samping tiang dan di balik jendela sekolah masih terbayangkan wajah Indah yang lucu, kini yang tersisa hanyalah kenangannya, orangnya sudah tiada lagi. Dia telah pergi ke Jakarta kembali berpindah ke rumahnya yang dulu. Malam-malam yang dingin dengan penuh rasa tak mengenakan hanya itu yang dirasakan, menjadi malam yang panjang yang tak tau kapan ujungnya. Hari demi hari berjalan dalam potongan-potongan kecil kenangan tentang “ Indah “ yang menghantui hampir setiap saat sebelum terlelap tidur atau setiap dalam kesendirian.

            Ujian semester akhir sedang dihadapi siswa-siswi di penjuru daerah, tinggal satu hal penting itu yang harus dilewati. lulus dengan hasil nilai yang bagus membuat Koko tersenyum, tidak disangka jika kembali membayangkan yang dulu masih kecil, ceria, bermain kesana-kemari, tertawa lepas bebas bagai burung di angkasa indahnya masa-masa saat itu. Hampir tak terasa ternyata itu semua adalah kenangan delapan tahun yang lalu, itu adalah memory yang indah dan pasti perlu tarikan nafas panjang dengan perasaan yang dalam saat ingatan tentang indah ikut terbawa ke dalam gambaran masa lalu. Selama bertahun-tahun lamanya ternyata kenangan itu tak pernah memudar, namun hidup harus terus berjalan tak akan menunggu dan memberikan toleransinya tak peduli apa kita sedang sakit, menderita ataupun bahagia waktu tidak bisa ditahan bahkan untuk sejenak saja. Jika sakit dan derita  yang sedang dialami mencobalah untuk lebih bersyukur atas apa yang masih di miliki dan semoga dengan itu kesakitan yang tadinya dirasa perlahan berubah menjadi kebahagian dan saat kebahagiaan telah ada tetapkan untuk lebih bersyukur maka kebahagiaan akan terasa menjadi semakin indah, rasa syukur mengingatkan saat sedang sakit untuk kuatlah lebih lama lagi, begitulah cara pandang Koko dalam bersikap dan itulah yang menjadikannya seperti sekarang ini. 

            Sudah saatnya memilih jalan hidup sendiri enam bulan sejak kelulusan sekolah, hampir semua teman-teman seangkatan sudah mendapat pekerjaan di kota, di Jakarta khususnya menjadi karyawan PT adalah pilihan utama dan merupakan suatu kebanggan anak-anak lulusan sekolah menengah kejuruan, walau ada juga sebagian yang melanjutkan untuk kuliah, kenyataannya saat ini Koko harus berjuang sendiri setelah enam bulan baru mendapatkan pekerjaan pertamanya dan menganggur tiga bulan sebelumnya untuk mencari dan melamar-lamar dari satu pintu PT ke pintu PT yang lainnya, betapa beratnya harus hidup dari menumpang di sebuah kontrakan ukuran tiga kali enam meter dengan penuh beban hutang dan beban mental. Sebuah harapan baru setelah kesusahan, kini angin segar telah menghampiri menjawab do’a yang telah lama dipanjatan sejak enam bulan yang lalu. Berkarir menjadi seorang karyawan dengan kedisiplinannya menyadarkan bahwa waktu menjadi sangat penting, yang ada hanya bekerja dan bekerja hampir tak terpikirkan akan hal lainnya, di situlah mulai timul pertentangan apakah hidup ini akan berjalan monoton seperti yang dijalani sekarang ini. Tak disangka sebuah kejutan  muncul dari sisi kehidupan yang lain, setelah bergabung dengan komunitas group di Facebook yang anggotanya khusus orang-orang satu desa waktu itu, secara kebetulan membawa perkenalan dengan salah seorang yang ternyata adalah saudara dari Indah, di akhir perkenalan itu nomer Handphone Indah telah tercatat di phonebook . seketika detakan jantung terasa mengancang semakin kencang pikiran pun melambung tinggi menggapai asa, gugup mungkin gelisah yang terjadi sebuah perasaan tak menentu entah ini suatu hal yang tidak penting atau suatu hal yang memang sedang dinanti-nanti sekian lama, delapan tahun bukan ukuran waktu yang pendek  jika ini adalah hal yang tidak penting pasti sudah terlupakan sejak dulu. 

            Perlahan dan pasti akhirnya terjadi sebuah pertemuan ini seperti perkenalan kedua setelah perkenalan di desa dulu, masih saja ingat kenangan masa-masa itu,  membicarakan betapa lucunya lembaran-lembaran cerita di masa lalu ketika dibuka kembali. Rasa malu hingga tertawa yang mengiringi, bunga-bunga yang ditanam di hati sudah lama sekali tidak terlihat kuncupnya tapi kini embun menyejukan telah turun memberikan rintik airnya ke padang bunga di hati, hingga menumbuhkan dan mulai memekarkan kembali bunga-bunga indah. Indah telah tumbuh menjadi dewasa dia tidak lagi kecil dan mungil tapi cantik dan mempesona sifat cerianya yang kekanak-kanakan masih seringkali terlihat, bertemu dalam kedekatan jarak di satu kota sungguh suatu kenyataan yang menyenangkan. Terlintas di fikiran untuk menayakan sesuatu yang lebih serius yang seharusnya dikatakan sejak awal-awal pertemuan, tentang apakah Indah sudah memiliki seseorang yang sepesial di hatinya, namun pertanyaan itu tidak pernah diucapkan. Entah sampai kapan kedekatan yang dirasa itu berjalan, tidak terfikirkan sedikitpun akan ada ujung dari kedekatan ini di hati sangat yakin hubungan seperti ini akan berlanjut terus dan hanya kebahagiaanlah yang ada. Di suatu senja pertemuan yang ketiga Indah terlihat murung, cerianya tak nampak seperti biasa hanya menjawab pertanyaan dengan bahasa isyarat, dengan anggukan kepalanya dan sepatah dua patah kata saja, tak banyak perbincangan hari itu.

            Kedekatan yang terjalin tidak secara face to face telah berjalan cukup lama sejak pertemuan pertama sampai yang ketiga dan selebihnya lebih banyak dilakukan lewat telefon dan SMS sesekali lewat Facebook, akhir-akhir ini terlihat ada sesuatu yang disembunyikan Indah, sesuatu yang tidak ingin diketahui sesuatu yang membuat hati bertanya-tanya namun selalu pertanyaan di hati itu selalu dapat ditepiskan, hingga beberapa hari berlalu dan mulai timbul adanya  jarak pemisah yang begitu jelas. Pesan singkat yang ditulis malam itu adalah kejelasan dari semua kejadian yang terjadi akhir-akhir ini, Indah akan menikah tanggal 15 bulan ini,  kata maafnya begitu jelas teringat dan ucapan terimakasih telah bersedia menjadi seseorang yang sepesial di hatinya isyarat tidak sanggup mengakhiri kedekatan itu tapi tidak ingin melanjutkan kelukaan yang lebih lagi jika terus dibiarkan tumbuh bersemi, itulah kata-kata terakhirnya. Malam itu terasa begitu lama dan menjadi sunyi bintang-bintang yang nampak menari-nari tidak mampu menghibur nafas dalam dengan mata terpejam hanya itu yang bisa dilakukan, dimana kebahagian itu kemana perginya.

            “Indah” adalah suatu misteri saat tidak diketahui keberadaannya, dia memberikan harapan, memberikan bumbu rasa tersendiri dalam kehidupan yang gelap, akhir penantiaan yang panjang kini telah menemukan ujungnya, tidak ada lagi pertanyaan, keresahan, dan kegalauan seperti yang dulu , ketidakjelasan itu kini telah menjadi pasti. “Indah” kini sudah ditemukan dia hadir dan nyata bahkan sempat dekat dan menumbuhkan kembali benih-benih yang dulu. Namun saat ditemukannya Indah bersamaan dengan itu pulalah saatnya untuk menyadari bahwa kini adalah saat untuk meninggalkannya, melepasnya dari ikatan hati yang telah berumur delapan tahun lamanya, bertambah lagi kini satu ilmu yang rasanya pahit namun pasti akan membawa pada kebesaran diri yaitu Ikhlas, tidak berhenti berharap begitu saja saat sesuatu yang tidak mungkin datang  melanda dan saat sesuatu yang di impi-impikan itu telah datang maka bersiaplah untuk menerima kenyataan jika harus kehilangannya.

Ibu jangan menangis

Posted: Jumat, 25 Maret 2011 by handokotkj in Label:
1


By : coco stemzago
Lembut belaian kasihmu tak ada duanya di dunia ini, kehangatan yang kau berikan sungguh mampu mendamaikan hati, kau adalah malaikat penjaga di saat kuncup-kuncup bunga terlahir ke dunia ini, kau curahkan kasih sayang sepenuhnya milikmu, merawat dan mengajari hingga tumbuh menjadi permata kehidupan, permata yang bersinar hingga ke langit, kasihmu sepanjang jalan, cintamu abadi, senyummu adalah embun pagi yang menyejukan, dunia ini tak bersemi jika tak ada hadirmu diantaranya.
Asalamu’alaikum bu’ berangkat dulu….”
Eee… cium tangannya mana…?”
Oiya… mmmmucah…”
sudah punya uang saku nak’…”
sudah bu’… sisa yg kemaren masih ada…” kataku sambil berlari mengejar teman-teman yang hendak berangkat sekolah. Kehidupanku penuh dengan kasih sayang dan keceriaan setiap hari selalu dalam tawa keceriaan belajar dan bermain itulah fase hidup yang sedang kujalani kini. Setiap pulang sekolah telah tersedia pakaian ganti dan makanan khusus yang istimewa untukku bahkan setiap saat makan selalu istimewa, pernah suatu ketika saat ekonomi kami sedang dalam masa-masa kritis hanya sekedar membeli beras pun tak sanggup, kami punya kebun singkong di pekarangan rumah, sebagai ganti dari nasi jadilah singkong dibuat menjadi oyek, oyek kami menyebutnya seperti itu’ nasi dari singkong, ibu tau jika aku tidak menyukai oyek, dan pasti aku tak akan memakan makanan itu. Tanpa sepengetahuanku ibu meminta nasi barang sepiring kepada tetangga ituah yang selalu ibu lakukan jika persedian beras sedang habis, sebagai rasa terimaksih ibu kepada tetangga jika ibu membuat kue ibu menyisakan kue untuk dibagi ke tetangga, semua itu diakukan ibu dengan tulus hanya untukku. Tak jauh berbeda dengan nasinya lauk tempe goreng yang hanya ada dua potong itu pun diberikannya satu untukku dan satunya lagi untuk ayah ibu hanya cukup makan dengan oyek dan lauk ampas yaitu parutan kelapa yang dibubuhi garam. Apapun dilakukan Ibu dan Ayah agar roda kehidupan kami tetap berjalan, Ayah hampir setiap hari pulang larut malam pekerjaanya adalah membuat cobek dari batu kali, setiap hari ayah bisa menghasilkan Lima belas cobek, jika harganya sedang normal satu cobek dihargai Seribu Limaratus per buah, sementara ibu juga jarang di rumah ibu sering menjadi buruh pemetik padi, pemetik buah melinjo dan buruh pencabut rumput di kebun tetangga apapun yang dapat menghasilkan uang ibu bersedia mengerjakannya hanya sekedar untuk membantu ekonomi keluarga. Jelas setiap malam hari adalah waktunya istirahat, baik ayah maupun ibu pasti kelelahan seharian bekerja, memijat tangan ibu itulah yang kuakukan jika waktu malam tiba kemudian dilanjutkan dengan memijat punggung ayah, biasanya sebelum beranjak ketempat tidur kami bercengkrama sebentar di ruang tamu, dan akhirnya seluruh ruangan rumah menjadi gelap gulita untuk menghemat tagihan listrik semua lampu dimatikan.
bu’ tipasin aku kegerahan…, bu besok aku mau dibeliin buku gambar ya..”
iya… nak,,,”
yang warnanya merah…, yang ada gambar robotnya…”
Setiap malam selimut kasih sayangnya selalu menghangatkan tidurku mengantarku hingga jauh ke negeri kapuk dengan tenang dan damai, di elus-elusnya keningku hingga ku terlelap dengan sendirinya, mengiyakan semua permintaan yang ku terkesan rewel minta ini itu semauku, kadang aku marah pada ibu karena tidak mengabulkan salah satu permintaanku padahal jelas-jelas ibu sudah berkata iya’ padaku.
Akhir-akhir ini ibu lebih sering merenung berdiam diri, anak keduanya satu-satunya anak perempuan ibu akan segera melakukan pernikahan, dua minggu lagi menikah dengan orang jauh berbeda provinsi, istri pasti akan mengkuti jejak suaminya tinggal bersama sang suami yang jauh disana. setelah kakak pertamaku yang merantau dan juga menikah dengan orang jauh. ibu selalu merindukan anak-anaknya dari enam anaknya semuanya telah merantau kecuali aku yang masih tinggal bersamanya, hampir hanya satu tahun sekali kami saling berjumpa yaitu dalam suasana lebaran, saat idul fitri adalah hari sangat membahagiakan untuk ibu terlihat jelas raut wajahnya yang cerah saat berkumpul dengan para buah hatinya. Ibu akan menyuguhkan banyak sekali makanan dan kue-kue buatannya sendiri di hari istimewa itu, akan melayani para buah hatinya bagaikan si mbok melayani majikannya. Tapi menunggu saat itu masih lama walau hanya sekedar dibayangkan ibu, masih Enam buan lagi. Kadang ibu menerima pesanan membuat kue, ibu jago jika membuat kue dan setiap kali akan membuat kue maka aku akan hadir di situ untuk menjadi orang pertama yang mencicipinya, dan tentu juga membantunya tidak Cuma membuat kue saat memasak pun aku ada untuk membantunya, makanya aku bisa membuat kue, memasak, merajut dan melakukan hal-hal lainnya yang biasa dikerjakan oleh perempuan,
ibu kenapa, ibu menangis…?”
ibu tak menangis nak’…”
ayo lanjutin bikin kue’nya.., itu daun pisangnya dilappin …”
ibu… baca surat dari siapa…?”
bukan apa-apa,… tolong masukkin kepanci kue pipisnya nak…’”
Jelas kulihat kelopak matanya dipenuhi genangan air mata, apa namanya itu jika bukan menangis hatiku trenyuh sekali jika melihat seseorang menangis apa lagi itu ibuku sendiri aku seolah ingin menangis bersamanya. Kulihat surat itu di atas meja ruang tamu apa kiranya yang membuat ibu menangis semkin penasaran ku diabuatnya pelan-pelan ku buka amplop putih Air Mail itu, ku lihat isinya dengan seksama satu-satu ku eja Jombang, 12 Juli 2007 surat ini dari kak’ Rodo kakak pertamaku, di surat tertulis ananda Rodo lebaran tahun ini tidak bisa pulang karena istrinya tengah mengandung Delapan Bulan kwatir jika nanti terjadi apa-apa di perjalanan, kakak minta maaf tidak dapat berkumpul bersama keluarga saat lebaran nanti mungkin baru bisa bersilaturahmi setelah istrinya itu melahirkan sehabis lebaran. Aku mengerti kesedihan-kesedihan yang membuat ibu menangis, umur ibu kini memasuki Lima puluh Lima tahun aku semakin mengerti yang orang tua butuhkan kini bukan segenggam emas yang kau berikan untuk menukar kebahagiaan bukan sekoper uang untuk membahagiakan ibu, atau segudang materi. Seorang ibu akan sangat merindukan kehadiran putra-putrinya di usia tua, memberikannya kasih sayang yang tulus sebagaimana seorang ibu menyayangi buah hatinya diwaktu kecil, ibu tua menginginkan perhatian dan cinta disaat raga mereka terasa lemah dan tak berdaya lagi.
Lulus dari sekolah menengah kejuruan membuatku harus segera bekerja di sebuah perusahaan atau PT, lulusan SMK sudah dicetak khusus untuk bekerja, berbeda dengan SMU yang setelah lulus dilanjutkan dengan kuliah di Universitas, keinginanku masuk ke SMU tertahan karena jelas keluargaku tak akan mampu membiayaiku jika harus kuliah. setelah melewati Tiga tahun kelulusan pasti akan sulit mencari pekerjaan kembali di PT, untuk itu harus dengan segera mendaftar bekerja di PT, namanya juga PT kerja keras menggunakan segenap kekuatan fisik itu yang di unggulkan, sering kami yang menjadi karyawan PT disebut sebagai kuli. Yang masa kerjanya menggunakan system kontrak saat ini hampir tidak mungkin untuk dapat diangkat menjadi karyawan tetap sebuah perusahaan, itulah kenyataan pahit yang harus dihadapi para lulusan SMK, bisa dihitung saat usia melebihi Dua puluh enam tahun perusahaan akan menolak untuk menerima sebagai karyawan lagi. Nasib sebenarnya dimulai dari sini banyak yang menganggur, sebagian ada yang berwirausaha seadanya atau yang lebih cerdas adalah mereka yang menabung di waktu menjadi karyawan dan setelah tiba masa tak produktif lagi di PT mereka membuka sebuah usaha dari hasil tabungan tersebut. Ya tapi itupun tak banyak yang melakukannya terkadang hanya orang-orang yang benar-benar pintar dalam memanajemen keungan yang bisa. Bekerja jauh dari keluarga jauh dari ibu membuat hatiku tak tenang sepenuhnya dimalam-malam sendiri terbayang akan senyuman ibu yang penuh dengan kasih sayang itu,
bu… sedang apa kau kini di kampung…?”
baik-baik… selalu ibu, aku menyayangimu…”
aku akan segera pulang… membawakan oleh-oleh wingko babat kesukaan ibu…”
Saat ku terbayang wajahnya yang selalu cerah diwaktu berjumpa denganku, diliputi kerutan-kerutan keningnya dihiasi senyuman lebar lesung pipi yang bulat dan sentuhan lembut akan semakin bertambah kangenku dengan ibu, ku khwatir saat ini ibu sedang menangis Sembilan bulan lamanya kita tak berjumpa.
Umur semakin matang saja, kontrak Satu tahunku telah habis, apa boleh buat untuk sementara ini ku tinggal di rumah sambil menunggu panggilan dari perusahaan lain yang kemungkinan bersedia menerima surat lamaran yang telah kukirim sebelumnya, kini di rumah ada aku bapak dan ibu seperti kembali ke masa dulu saja sebelum ku pergi merantau, ibu masih saja sering memanjakan aku, kini ibu lebih sering membicarakan masalah-masalah kehidupan denganku mungkin karena sekarang usiaku sudah dianggap dewasa,
nak’… menikahlah dengan orang satu desa sini ya…”
ah’… belum terpikirkan olehku bu….”
nak’ kan tau semua saudaramu satu-persatu telah menjadi orang jauh…ibu tak ingin ditinggal lagi….”
hmm… iya insyaAlloh bu’…”
kamu tak kasihan sama ibu… nanti siapa yang mengurusi ibu disini….”
Tak banyak kata, ku alihkan perhatian ibu dengan topik lainnya “jangan ada kesedihan lagi bu…aku tak sanggup jika harus melihat ibu meneteskan air mata lagi” panggilan dari PT tak kunjunga datang sudah Tiga bulan lamanya, aku tak bisa seperti ini terus segera mencari pekerjaan baru itu yang harus kulakukan menganggur di kampung tanpa penghasilan hanya akan menjadi beban, sementara kini fisik ayah sudah mulai lemah dan sering sakit-sakitan sudah tak mampu lagi membuat cobek. Batinku semakin tak enak saja untuk berlama-lama membebani mereka. Aku punya seorang sahabat Nanang namanya yang memberikan informasi tentang sebuah pekerjaan yang gajinya hampir Lima kali lipat pekerjaan di PT, terang saja ku bersemangat menanggapi hal itu. Ku benar-benar tertarik ingin sekali mengambil pekerjaan itu jika sebesar itu gaji yang aku peroleh Lima tahun saja ku bisa membangun toko atau tempat usaha dari tabungan penghasilan pekerjaan itu. Segera lewat SMS ku Tanya saja dengan semangat.
bagaimana Nang… dengan pekerjaan yg kemaren…”
kamu berminat pa…?”
sangat berminat….”
kalo kamu berminat segera ku uruskan Pasportnya, nanti masalah biaya dipotong gaji…”
lho emang pekerjaannya dimana…?”
Di korea sana…. Bagaimana…?”
owh… di luar negeri tho…., ya nanti aku kabari lagi. Trimakasih sebelumnya Nang….”
Berpikir habis-habisan ku setelah SMS malam itu, ku harus Tanya Ayah juga ibu dan mendapat persetujuannya sebelum akhirnya ku ambil keputusan. Keadaan ibu kini sudah membaik sebelumnya ibu menginap tiga hari di Puskesmas karena terkena typus sekarang sudah bias beraktifitas seperti biasa.
bagaimana nak…jadi berangkat…?”
jadi bu… insyaAlloh minggu depan…ibu jangan khwatir ya nanti kan ada bibi yang nemenin ibu dirumah,,,”
ibu takut tak bisa berjumpa denganmu lagi nak’…”
hust….??? Ibu….. ibu kan maih sehat-sehat saja…tak akan terjadi apa-apa… ”
Dari kecil hingga kini ku dewasa ibu selalu menuruti permintaanku dan tak melarang apa kemauanku bahkan untuk yang ini, aku akan ke luar negeri selama Lima tahun dan selama itu aku tak akan berjumpa dengan ibu, Berat sekali meninggalkan ibu, sekali lagi tetesan airmata ibu yang berharga itu menetes dipundakku dan membasahi pipiku dirangkulnya ku erat-erat.”ibu… sudahlah… aku akan kembali pulang untuk ibu…”.
Satu minggu meginap di tempat penampungan TKI di Jakarta kemudian hari ini saatnya berkemas mempersiapkan segala sesuatu keperluan-keperluan yang dibutuhkan nanti. Sore sampai dibandara rencananya jam Empat ini berangkat meninggalkan Indonesia, tapi jadwal penerbangan tertunda hingga nanti jam Lima, pukul Empat lima puluh kuangkat ransel menuju pesawat keberangkatan selang beberapa langkah Handphoneku berbunyi telepon dari rumah,
ibu di rumah sakit…. Typusnya kambuh lagi…”
di rumah sakit…??? Apa penyakitnya sudah parah….:???”
sudah Dua hari yang lalu…. Baru saja dirujuk dari puskesmas…ibu nyebut-nyebut nama kamu terus…”
sekarang bagaimana keadannya… ??? aku ingin bicara bias ga…???”
bisa… ibu memang ingin bicara dari kemarin….”
ibu… ibu…. Bagaimana keadaan ibu…..???”
nak…. Pulang nak….”
Hanya itu kata terakhirnya, suranya merintih dan ibu terdengar gemetar. Sementara panggilan untuk penumpang segera memasuki pesawat akan segera berangkat telah diserukan lewat microphone bandara. Memejamkan mata ku renungi apa yang harus kulakukan kini…
ibu aku menyayangimu…”
Tak berpikir panjang lagi tak akan kutorehkan sejarah yang akan membuatku menyesal seumur hidupku kelak. Pukul Enam di terminal…
Pak’ satu tiket ke Kebumen Jawa tengah….”
Sabtu, 4 september 2010